Buku ini memperkenalkan Subak bukan sekadar sebagai sistem irigasi tradisional Bali, melainkan sebagai tata kehidupan pertanian yang menyatukan ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dan spiritualitas. Berlandaskan filosofi Tri Hita Karana, Subak memperlihatkan bagaimana pengelolaan pertanian dapat berjalan selaras dengan manusia, alam, dan nilai-nilai kehidupan. Sejarah, kelembagaan, kepemimpinan, pengelolaan air, hingga peran petani dibahas untuk memperlihatkan perjalanan Subak dalam menjaga keberlanjutan pertanian. Pembahasan kemudian bergerak pada dinamika agribisnis, mulai dari produksi, pengolahan hasil, pemasaran, kelayakan usaha, daya saing, agroindustri, hingga pemanfaatan teknologi digital dan agrowisata. Berbagai persoalan seperti alih fungsi lahan, perubahan iklim, regenerasi petani, dan perubahan pasar turut diangkat bersama gagasan penguatan kelembagaan, inovasi, hilirisasi, dan kolaborasi.